Home » Ekonomi & Bisnis » Budidaya Gaharu Di Kutim Untung Ratusan Juta Rupiah

Budidaya Gaharu Di Kutim Untung Ratusan Juta Rupiah

[Sangatta]: Sejumlah petani kelapa sawit di Kampung Tabuan, Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, mengaku tertarik mengembangkan dan membudidayakan tanaman gaharu dengan memanfaatkan lahan mereka yang kosong.Menurut Ismail, 51 tahun, warga RT 19 Kampung Tabuan, akhir Maret lalu, ia dan warga Tabuan yang kebanyakan petani tertarik membudidayakan kayu gaharu di lahan mereka masing-masing. “Saya sendiri sudah menyiapkan ribuan benih gaharu untuk ditanam di atas lahan seluas dua hektare,”kata Ismail. Ia menambahkan, banyak lahan kosong milik warga yang akan dijadikan kebun gaharu, meskipun ada juga yang sudah ditanami tanaman lain seperti kelapa sawit atau pisang.

Ketertarikan warga Tabuan mengembangkan gaharu karena ada warga setempat yang telah membudidayakan gaharu memperoleh keuntungan yang sangat besar, yaitu mendapat tawaran dari pembeli yang keuntungannya ratusan juta rupiah. “Salah satu warga di sini memiliki luas kebun gaharu dua hektare, dengan umur tanaman hampir 10 tahun, dijual Rp 1 miliar lebih, artinya, keuntungannya ratusan juta rupiah,” kata Ismail.

Keterangan Ismail dibenarkan Sumaila, 50 tahun. Menurutnya, kesuksesan salah satu warganya yang meraup keuntungan besar menanam gaharu mendorong petani yang lain untuk mengikuti jejak warga yang sukses itu. “Kami ingin juga menikmati keuntungan dengan menanam gaharu. Karena itu banyak petani akan mulai menanam gaharu dan beralih dari kebun kelapa sawit yang dianggap tidak memberikan keuntungan yang diharapkan,” kata Sumaila.

Menurutnya, berkebun kebun kelapa sawit juga membutuhkan biaya sangat besar, belum lagi harga pupuk dan obat-obatan yang mahal, demikian juga biaya operasionalnya cukup tinggi, sementara harga jual dipasaran cukup murah.

Menurut Ismail, para petani di Tabuan kebanyakan memiliki kebun kelapa sawit sejak lama, namun belum ada yang memperoleh keuntungan besar, apalagi harga pasaran murah, sehingga banyak kebun kelapa sawit yang tidak pelihara dan banyak buah sawit dibiarkan jatuh dan rusak. Ia juga mengakui buah sawit di daerahnya tidak begitu berkualitas, hal itu karena kurangnya pupuk dan oat-obatan. “Obat dan pupuk berkebun sawit sangat mahal, kami tidak sanggup membelinya. Karena itu, para petani kini mulai tertarik menanam gaharu, mudah-mudahan kami dapat memperoleh keuntungan yang lebih baik,” katanya. [as]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: